Kamis, 05 April 2018

Masker Arang Bambu Himalaya Berikan Sensasi Ajaib

Masker Arang Bambu Himalaya Berikan Sensasi Ajaib

Banyak peradaban di Asia, termasuk India, Jepang, China, Korea, dan Taiwan telah memanfaatkan arang untuk berbagai keperluan sejak berabad lalu. Orang-orang Jepang misalnya, sudah sejak lama menggunakan arang untuk detoks atau membuang racun dari tubuh.

Sedangkan dalam hal perawatan tubuh, arang dipakai untuk membersihkan, mulai dari memutihkan gigi hingga menjadikan kulit lebih bercahaya dan bersih. Nah, rupanya kebiasaan itu tidak ditinggalkan, malah menjadi tren belakangan ini.

Salah satu produk perawatan tubuh yang mengadopsi arang adalah The Body Shop dengan masker Himalayan Charcoal Purifying Glow Mask dan Facial Soap. Uniknya, arang yang digunakan ini berasal dari bambu yang ditanam di kaki Pegunungan Himalaya.

"Kami mengunakan bambu karena tanaman ini bersifat menyerap racun dan cepat tumbuh sehingga tidak merusak lingkungan," ujar Geraldine Jacquinot, direktur bagian perawatan tubuh di The Body Shop saat bertemu di kawasan resort Dhulikhel, di kaki Himalaya, Nepal, Selasa (6/3/2018). "Saat kita tebang, tunas bambu akan segera tumbuh dari akar yang sama," lanjutnya.

Selain arang bambu yang berfungsi untuk mengeluarkan racun dari kulit kita serta mengangkat sel-sel kulit mati, masker wajah ini juga mengandung tea tree oil dari Kenya untuk membantu menghilangkan jerawat, serta daun teh hijau dari Jepang yang kaya antioksidan. Perpaduan bahan-bahan itu memberi manfaat bagi kulit.

Terinspirasi dari tradisi Ayurvedic, masker wajah ini juga dibuat 100 persen vegan, tanpa parabens, paraffin, silikon dan minyak mineral.


Himalayan Charcoal Purifying Glow Maskthe body shop Himalayan Charcoal Purifying Glow Mask

Masker tersebut di Nepal dengan panduan dari Vanda Serrador, Facialist dari The Body Shop. Maklum, sebagai pria, memang jarang-jarang kita menggunakan produk perawatan wajah seperti masker ini.
Saat membuka masker dalam wadah yang elegan itu, wangi herbal dan tea tree segera tercium. Aromanya yang segar tersapu angin Pegunungan Himalaya menghadirkan ketenangan, bahkan sebelum kami memakainya.

Tekstur masker berwarna cokelat abu-abu itu sendiri tidak bisa dikatakan lembut, karena ada potongan-potongan kecil arang bambu dan daun teh di dalamnya. Namun saat diusapkan ke kulit menggunakan kuas, ada rasa dingin yang membuat kulit terasa nyaman.

"Bila terlalu kental, kamu bisa menambahkan sedikit air," ujar Vanda.

Tantangannya adalah rasa geli saat masker mulai mengering di wajah. Walau proses mengeringnya tak memakan waktu lama, sekitar 5-10 menit tergantung seberapa banyak yang kita usapkan, namun ada rasa tergelitik berbaur dengan rasa mengencang di wajah. Sensasi yang harus kamu rasakan sendiri.

Nah, setelah kering dan dibasuh dengan air hangat lalu dikeringkan, hasilnya memang ajaib. Kulit wajah menjadi terasa segar, bersih, dan kencang, bahkan setelah berjam-jam kemudian. Rasanya seperti merontokkan debu-debu, kulit mati, dan kelebihan minyak di muka yang selama ini menempel.

"Itu adalah perasaan yang dikatakan banyak orang," ujar Vanda. "Mereka merasakan manfaatnya seketika. Tanpa harus ke salon, mereka merasakan kulitnya lebih halus, lebih bersih, lebih segar, dan lebih bercahaya."

Menurut The Body Shop, dalam percobaan produk masker ini terhadap para pemakai, 92 persen sepakat bahwa kulit mereka terasa bebas dari sumbatan dan minyak berlebih, 90 persen merasa pori-porinya menjadi lebih kecil, dan 91 persen merasa kulitnya menjadi lebih segar.

Lalu siapakah yang sebaiknya memakai produk ini?
"Siapa saja bisa menggunakan masker ini terutama mereka yang kulitnya berminyak, karena fungsinya adalah menghilangkan kotoran dan kulit mati, mengurangi kelebihan minyak, dan memberikan kulit yang kencang, bersih dan bercahaya," ujar Vanda.

Ini juga merupakan produk unisex yang bisa dipakai pria maupun wanita. Dalam kampanye masker arang Himalaya ini, The Body Shop bahkan menggunakan model pria dengan pose wajah geli tertutup masker.

Tambahan lagi, The Body Shop menjadikan produk arang bambu Himalaya ini sebagai bagian dari kampanye menyelamatkan red panda, hewan serupa musang yang terancam punah karena habitatnya rusak.

0 komentar:

Posting Komentar